Sebagai seorang penulis senior, aku sadar tak boleh sombong. Tapi aku paling benci kalau dikejar-kejar wartawan. Walaupun sadar, tanpa wartawan, puluhan novel itu tak akan best seller. Aku juga ainul yakin, tanpa jasa wartawan, dan saudaranya, editor, cerpen-cerpenku tak mungkin hilir mudik di koran nasional.
Karena film yang diangkat dari novelku akan segera diputar di bioskop, mau nggak mau harus mengundang wartawan untuk konferensi pers. Huft... paling males kalau harus berhadapan dengan wartawan. Pasti mereka akan mengulik kehidupan pribadi, bukan membahas karya-karyaku yang fenomenal.
"Apakah saya boleh menanyakan sedikit pertanyaan pribadi?" tanya seorang wartawan infotainment.
"Silakan," sahutku. Hmmm... sebenarnya aku mau nolak, tapi manajer pemasaran ARGH Publishing menginjak sepatuku.
"Kenapa di profil facebook, pekerjaan Anda tertulis sebagai Penulis Bayangan? Bukannya Anda penulis senior yang naskahnya selalu diburu penerbit?"
Aduuuh, kenapa pula wartawan ini menanyakan hal itu? Dasar biang gosip!! Untuk menghilangkan emosi yang mulai merangkak ke ubun-ubun, aku pun menarik nafas panjang, lalu berhitung dari satu sampai seratus (eits... kelamaan ya?).
"Begini Mas Wartawan. Memang saya penulis senior dan fenomenal. Buku-buku yang saya tulis selalu best seller. Bahkan saya selalu menjadi rebutan para penerbit. Produser film pun tak mau kalah. Mereka selalu merayu untuk mengangkat buku-buku saya ke layar lebar."
"Tetapi... alasan saya terlalu pribadi sifatnya," sambungku sambil menghela nafas.
"Ayolah... jutaan fans Anda telah menunggu jawabannya!" seru seluruh wartawan yang dengan tegang menunggu jawabanku.
"Masalahnya... semua itu hanya bayangan saya saja... "